Friday, August 5, 2016

Mengatasi Anak Yang Kecanduan Gadget

Penggunaan teknologi dalam dunia kerja memang tidak dapat dipungkiri lagi kebutuhannya. Dan itu sebenarnya wajar, bahkan para karyawan di biro psikologi Yogyakarta juga memanfaatkan teknologi untuk semua layanannya. Tapi bagaimana teknologi diberikan pada anak yang belum siap ? Memanglah susah melepaskan gadget dari kehidupan anak. Lebih-lebih, kalau dia telah kecanduan, yg dapat mengamuk demikian gadgetnya diambil, & menunjukkan tingkah laku lain yg teramat mengganggu [Baca pun : Resiko samping paparan sinar biru dari monitor gadget]. Tetapi Rieska Wulandari, mama dari Carlo (4 th), sukses menjauhkan putra pertamanya itu dari gadget sama sekali. “Sudah satu th terakhir ini tak sempat sekali serta beliau minta gadget-nya, bahkan dirinya serta tak menyentuh seluler milik aku atau ayahnya,” kata Rieska, yg dikala ini tinggal di Milan, Italia.

Padahal, catat Rieska dalam catatan yg ia upload di Facebook-nya, kala masihlah usia 2,5 thn, Carlo dapat dibilang kecanduan gadget. Demikian bangun tidur, anak itu serta-merta berteriak, “Tablet… tablet,” meminta tablet-nya, sambil memasang mimik hendak menangis. Perempuan yg sedang mengandung anak keduanya itu juga cepat-cepat menyerahkan gadget itu terhadap Carlo, yg serentak asyik melihat channel musik anak-anak di YouTube. “Lumayan, menjadi dapat sambil menyiapkan sarapan,” pikir Rieska ketika itu.

Kala sarapan, Carlo tetap memegang gadget. Makanannya memang lah habis seketika, lantaran dikala beliau makan, matanya terfokus terhadap monitor tablet. “Sepertinya bahkan ia tidak sadar jikalau ia sedang makan. Jangan Sampai harap anak aku bakal berkomentar, ‘Wah, makanannya enak,’ lantaran pikirannya seolah tersedot oleh monitor gadget,” narasi Rieska. Masalah mulai sejak muncul, menurut Rieska, diwaktu Carlo mesti bersiap-siap ke day care. Pindai pakaian atau mandi menjadi susah fantastis sebab dirinya tidak akan melepas gadget-nya. “Pagi-pagi tentu diwarnai tangisan & mewek yg panjang-pendek. Melelahkan!” keluh Rieska.

Memasuki umur tiga th, temperamen Carlo serta sejak mulai beralih. Apabila gadget tak ada, ia dapat mengamuk. Bila channel yg ia ingin mandek dikarenakan problem koneksi atau web down, ia juga ngambek. “Bagaimana memaparkan mengenai internet, situs terhadap anak tiga th? Dirinya cuma tahu, apabila ada gadget, sehingga tayangan yg ia ingin mesti ada,” kata Rieska. “Begitu channel-nya bermasalah, itu tablet dapat dirinya lempar demikian saja!”

Tiap-tiap hri Carlo cuma berkutat bersama gadget. Disaat mengigau di malam, beliau pula minta diberikan gadget, yg bakal beliau mainkan hingga pagi, maka ia malah ngantuk waktu waktunya beraktivitas. “Persis kayak orang dewasa kecanduan game online, padahal yg ditonton anak aku itu hanya kartun-kartun & lagu yg tampaknya tidak berbahaya,” keluh Rieska.

RIeska mengakui, gadget benar-benar pernah meringankan, lebih-lebih disaat periode dingin, & kebetulan diluar hunian sedang bersalju, atau Carlo tertular flu. “Kalau telah demikian, hiburan yg paling asyik, ya, hanya gadget, tapi lama-lama aku menonton bahwa gadget memenjarakan beliau, nampaknya hidup tidak menyenangkan, jikalau tak ada gadget,” kata Rieska. “Saya sendiri diwaktu itu sibuk bekerja dan sering membantu atasan untuk melakukan psikotes recuitment karyawan, & jikalau dirinya sakit, sehingga aku tinggal bersama pengasuh, yg demikian Carlo rewel dikarenakan tak ada gadget, dapat memberikan gadget utk menenangkan dirinya.”

& kalaupun Carlo dititipkan di day care, menurut Rieska, ia tak demikian gemar bersosialisasi bersama anak-anak yg lain, condong bermain sendiri, & agak egois. Walau menurut gurunya masihlah normal, tapi Rieska terus merasa kurang nyaman dgn situasi tersebut. Dirinya juga memutuskan berakhir kerja sebelum periode dingin 2014, sebab tak mau Carlo keterusan sibuk bersama gadget.

Rieska mulai sejak menciptakan aktivitas & gerakan yg lebih bervariasi utk Carlo laksanakan di dalam hunian selagi periode dingin, sejak mulai dari menyanyi, main-main bola, main kertas, menggambar, mewarnai, bercerita, main-main petak umpet, menyusun Lego, hingga membangun stasiun kereta. “Kalau bosan di hunian, kami mampir ke hunian Nonna (nenek dalam bahasa Italia – Red.), atau berkeliling kota dgn bus & trem seusai day care. Toh, aku miliki membership transportasi publik tahunan, menjadi naik kendaraan umum ribuan kali pula telah tak butuh bayar lagi,” narasi Rieska. “Ternyata asyik sekali naik-turun kendaraan umum keliling kota. & tampaknya pengetahuan anak aku juga mulai sejak terbuka, maka aku menjadi semangat mengambil beliau kunjungan ke museum & sebagainya.”

Pelan-pelan, Carlo mulai sejak meninggalkan gadget, walau kadang tetap minta pada Rieska. Sesekali, beliau membolehkan Carlo memakai gadget, bersama beraneka ragam batasan, seperti tak boleh emosi atau geram jikalau ada masalah bersama gadget itu. & disaat masa semi tiba, Rieska sejak mulai menggandeng Carlo keluar hunian & berjalan-jalan, mampir ke taman, & menyaksikan hal-hal baru. Dirinya sejak mulai menikmati serta hari-harinya di sekolah, sejak mulai dapat bersosialisasi dgn rekan temannya.

Puncaknya merupakan masa panas 2015, kala Rieska & suami memutuskan berlibur sekeluarga sewaktu 3 pekan penuh. Meskipun Rieska konsisten mengambil gadget di dalam koper, tapi ketika Carlo menanyakan gadget, ia senantiasa mengemukakan bahwa benda itu tertinggal di Milan, lantas mengarahkan beliau main di pantai. “Rupanya pantai sangatlah ‘membiusnya’. Kami menentukan ia cuma laksanakan kegiatan yg sifatnya bersenang-senang, sibuk main pasir, bermain perosotan & ayunan, bermain air, bertaaruf bersama sesama anak-anak yg sedang liburan, naik kereta mungil & kincir raksasa, nonton pertunjukan lumba-lumba, menonton akuarium akbar, naik kapal dsb,” narasi Rieska. “Kami serta mengambil dirinya ke kota-kota lain, menyaksikan kastil, menyewa penginapan di lingkungan kebun zaitun yg pula mempunyai peternakan kuda, menyaksikan kontes pacuan kuda era abad pertengahan di Siena, menyaksikan pertunjukan musik di Perugia, mengahdiri lukisan-lukisan karya pelukis populer Giotto & ziarah gereja di Asisi, berlangsung di ladang-ladang tidak bertuan dsb.”

Saking sibuknya Carlo beraktivitas & main-main selagi liburan itu, beliau lupa sama sekali dgn gadget-nya. Kembali ke Milan, ingat serta tak bahwa dirinya punyai gadget, hingga diwaktu ini. Rieska mengakui, proses memisahkan anak dari gadget memang lah luar biasa sulit. “Kita mesti mencurahkan 100% perhatian terhadap anak. Lebih-lebih, anak era waktu ini demanding sekali, maka orangtua mesti kreatif & siap berkorban dikala ataupun tenaga, bila ingin menukar peran gadget, yg barangkali telah terlanjur mengikat anak,” jelasnya. “Tetapi sejak melepaskan pergaulannya dgn gadget, Carlo sejak mulai tahu bahwa ada kehidupan yg lebih nyata & indah di luar sana.” Selain itu permainan tradisional juga akan membuat badan anak menjadi lebih sehat.